30 Jul 2025 17:48 - 3 menit membaca

Trisni Atmawati: Asesmen Itu Bukan Menghakimi, Tapi Menguatkan Proses Belajar

Bagikan

Karanganyar, Kebumen, MediaJurnalis – “Hanya guru yang berubah, yang bisa menginspirasi murid untuk bertumbuh.” Kalimat pembuka penuh makna dari Trisni Atmawati, S.Si., M.Si., CSLM., CMS., langsung menggema di dalam benak para peserta In House Training (IHT) SMK Negeri 1 Karanganyar.

Disampaikan dengan ketulusan dan kekuatan pesan, kalimat itu menjadi pemantik semangat sekaligus cermin bagi para guru yang hadir untuk merefleksikan peran mereka di tengah dinamika pendidikan saat ini.

Tak berhenti di situ, gaya penyampaian Trisni yang komunikatif dan membumi sukses membangkitkan antusiasme para pendidik. Dengan pendekatan yang membaur antara teori dan empati, ia menyampaikan materi bertema “Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam”, sebuah topik yang tak hanya teknis, tetapi juga filosofis.

Trisni menekankan bahwa asesmen bukanlah sekadar alat penilaian di akhir pembelajaran, melainkan bagian penting dari proses itu sendiri, yang seharusnya memberi ruang untuk berpikir, memahami, dan bertumbuh.

Lebih jauh, ia mendorong para guru untuk menjadikan asesmen sebagai proses reflektif yang bermakna. Siswa tak cukup hanya dinilai dari angka atau benar-salah, tetapi dari kemampuan mereka memahami esensi materi, membangun gagasan, dan menghubungkannya dengan realitas kehidupan.

Asesmen, menurut Trisni, harus menjadi jembatan yang menghubungkan guru, siswa, dan orang tua dalam komunikasi yang membangun.

Kegiatan ini sendiri dilaksanakan pada hari pertama IHT, Senin, 28 Juli 2025, bertempat di aula utama sekolah. Suasana yang semula formal perlahan mencair dengan energi positif dari narasumber yang dikenal inspiratif.

Di hadapan para peserta, Trisni menegaskan bahwa asesmen tidak boleh hanya jadi alat pelabelan, melainkan harus mampu mengevaluasi pendekatan guru dan memberi ruang bagi peserta didik untuk merefleksi pembelajaran yang mereka jalani.

Trisni menegaskan bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang mendidik, bukan menghakimi hasil, melainkan memperkuat proses; bukan menghukum, tetapi membimbing. Pesan ini menjadi pengingat moral bagi guru untuk menilai secara adil dan manusiawi.

Dalam paparannya, Trisni menggarisbawahi tiga prinsip utama dalam asesmen: berkeadilan, objektif, dan edukatif. Guru, katanya, perlu menjauhkan diri dari penilaian yang bias dan mulai menggunakan instrumen asesmen yang sahih dan reliabel.

Penilaian harus didasarkan pada bukti nyata, bukan asumsi atau persepsi pribadi. Hasilnya pun sebaiknya digunakan sebagai umpan balik yang membangun, bukan sekadar angka penghias rapor.

Tak hanya membahas konsep, Trisni menunjukkan bahwa asesmen adalah proses yang hidup dan terintegrasi. Ia membedakan asesmen formatif untuk menilai efektivitas pembelajaran di tengah proses, dan sumatif untuk mengukur capaian akhir. Keduanya harus selaras demi pembelajaran yang mendalam dan berdaya guna.

Menariknya, berbagai alat digital juga diperkenalkan sebagai sarana memperkaya asesmen. Aplikasi seperti Quizizz, Kahoot, Google Form, Padlet, hingga Mentimeter dikenalkan sebagai media yang mampu membuat asesmen lebih interaktif dan menyenangkan.

Bagi Trisni, teknologi bukan semata alat bantu, tapi juga jembatan antara gaya belajar generasi digital dengan prinsip asesmen yang mendalam.

Dalam pembelajaran abad ke-21, Trisni menekankan asesmen autentik melalui proyek, portofolio, dan refleksi diri. Penilaian harus menyoroti proses berpikir dan relevansi nyata, bukan sekadar hafalan.

Sebagai penutup, Trisni membacakan puisi singkat yang menggugah hati. Suasana aula pun hangat dipenuhi semangat baru. “Ilmu asesmen sudah kita pegang, saatnya diterapkan, bukan hanya dikenang,” ujarnya sambil tersenyum. (sfd/ben)

Share this Post
2
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *