
Karanganyar, Kebumen, MediaJurnalis – Memasuki rangkaian hari kedua In House Training (IHT), Selasa, (29/7/2025) pagi, suasana aula SMK Negeri 1 Karanganyar kembali dipenuhi semangat belajar.
Pipit Dwi Komariah, S.S., M.Pd., atau yang akrab disapa Pipiet Dheka, hadir membawakan materi tentang pentingnya pembelajaran berdiferensiasi sebagai jalan menuju pendidikan yang bermakna dan berpihak pada murid.
Mengusung pendekatan yang humanis dan kontekstual, Pipit menyampaikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat guru untuk mengakomodasi perbedaan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa.
Dirinya menyebut bahwa setiap murid punya cara dan jalur tumbuh masing-masing, sehingga guru perlu lebih fleksibel dalam merancang proses belajar.
“Pembelajaran berdiferensiasi adalah bentuk memuliakan murid. Kita tidak bisa menyamakan perlakuan dalam ruang kelas yang penuh dengan keberagaman potensi,” ujarnya.
Pipit menekankan bahwa mindset atau pola pikir guru menjadi fondasi utama dalam menerapkan pendekatan ini. Guru perlu memiliki pandangan bahwa setiap anak mampu berkembang secara optimal jika diberi ruang dan strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Guru sekaligus penulis ini juga menguraikan tiga strategi utama dalam pembelajaran berdiferensiasi: konten, proses, dan produk. Konten dapat disesuaikan melalui ragam bahan ajar seperti video, teks bacaan, atau audio.
Proses melibatkan cara siswa menyerap materi, bisa melalui diskusi, praktik langsung, hingga proyek. Sementara produk menekankan fleksibilitas hasil akhir, mulai dari presentasi, poster, hingga simulasi, disesuaikan dengan potensi dan gaya belajar masing-masing siswa.
“Tidak semua siswa harus membuat laporan tertulis. Ada yang lebih kuat di visual, audio, atau praktik. Tugas guru adalah memberi ruang bagi keunikan itu untuk berkembang,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia membagikan contoh nyata penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas SMK, seperti proyek digital konten UMKM, desain poster kampanye sosial, hingga praktik simulasi sistem pengapian motor.
Dari proyek tersebut terlihat bahwa dengan pemetaan kebutuhan awal siswa, guru dapat menciptakan pembelajaran yang menggugah minat dan meningkatkan keterampilan siswa secara utuh.

Dalam paparannya, Pipit juga menyampaikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran mendalam.
Ia menyebut bahwa pembelajaran yang menggembirakan, bermakna, dan reflektif akan tumbuh jika guru mampu menyusun strategi berdasarkan kesiapan dan karakter unik siswa.
“Kita tidak hanya mendidik untuk lulus ujian, tapi mendampingi anak-anak kita agar menjadi manusia seutuhnya,” tegasnya.
Sesi bersama Pipit ditutup dengan ajakan kepada para guru untuk berani keluar dari zona nyaman model pembelajaran seragam, dan mulai melangkah menuju pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan membebaskan potensi siswa. (sfd/ben)
Tinggalkan Balasan