30 Jul 2025 19:23 - 3 menit membaca

Dari Ken Arok ke Kelas Vokasi, Edi Suryono Kupas Deep Learning ala Guru Masa Kini

Bagikan

Karanganyar, Kebumen, MediaJurnalis – Dalam rangkaian In House Training (IHT) bertema Pengembangan Digitalisasi Pembelajaran Mendalam, Edi Suryono, S.E., M.M.Pd., Pengawas SMK dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IX, tampil menyampaikan materi deep learning dengan pendekatan yang tak biasa. Bukan langsung bicara teori, ia justru membuka dengan kisah Ken Dedes dan Ken Arok.

Sesi yang disampaikan pada hari kedua kegiatan IHT Selasa, 29/7/2025, itu sontak membangkitkan antusiasme peserta. Edi mengajak para guru untuk melihat kembali bagaimana cerita masa lampau bisa memberi pelajaran tentang makna belajar yang mendalam, relevan dengan konteks kekinian.

“Ken Dedes punya aura kecantikan yang mampu memikat kekuasaan. Tapi lebih dari itu, siapa pun yang bisa membaca ‘aura’ itu, berarti punya kemampuan berpikir yang dalam. Itulah gambaran deep learning,” jelasnya sambil menggugah keingintahuan para peserta.

Menurutnya, deep learning bukan sekadar memahami permukaan materi pelajaran, melainkan menggali hingga ke lapisan makna terdalam, mengaitkan dengan realitas, dan menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan kontekstual.

Edi menyampaikan bahwa guru vokasi khususnya, harus mampu menghubungkan teori dengan praktik nyata, serta mendorong siswa untuk menyadari “mengapa” dan “untuk apa” mereka belajar suatu materi. Di sinilah letak peran deep learning, yakni membentuk pemahaman yang tidak mudah hilang.

Pengawas SMK itu juga menekankan bahwa era digital bukan alasan untuk mempercepat semua proses. Justru, guru perlu memperlambat pada titik-titik penting yang memungkinkan siswa merenung, bertanya, dan membangun makna, bukan sekadar menghafal.

“Kalau siswa hanya tahu cara mengerjakan soal, lalu lupa seminggu kemudian, itu bukan deep learning. Tapi kalau mereka bisa menjelaskan kembali dengan bahasa sendiri dan mengaitkan dengan kehidupan nyata, barulah kita bisa bilang mereka paham,” ujarnya.

Dalam sesi itu, Edi juga memberi contoh-contoh metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan deep learning, seperti pembelajaran berbasis proyek, refleksi mingguan, dan diskusi tematik yang mendorong siswa menyampaikan pendapat mereka secara orisinal.

Para peserta mengaku materi ini membuka wawasan mereka, terutama karena disampaikan dengan pendekatan budaya dan konteks lokal yang kuat. Kisah Ken Arok dan Ken Dedes yang selama ini dikenal sebagai cerita klasik, justru digunakan untuk menjelaskan pentingnya melihat lebih dalam dan berpikir lebih luas.

Kepala SMK Negeri 1 Karanganyar, Sehat Kandiawan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa sesi ini menjadi salah satu penguat penting dalam transformasi cara mengajar di sekolah.

“Kami tidak ingin guru hanya mengajar, tapi juga menginspirasi. Dan Pak Edi mengingatkan kita bahwa berpikir mendalam itu bisa dibangun dari hal-hal yang dekat dengan budaya dan keseharian kita,” ungkapnya.

Melalui sesi ini, deep learning tidak lagi dipahami sekadar istilah akademik, tetapi menjadi bagian dari cara berpikir yang membentuk siswa menjadi pembelajar sejati. (sfd/ben)

Share this Post
2
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *