
Karanganyar, Kebumen, MediaJurnalis – Kepala SMK Negeri 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Sehat Kandiawan, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa asesmen dalam dunia pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai akhir.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sehat Kandiawan saat dirinya menjadi narasumber dalam kegiatan In House Training (IHT) bertema “Pengembangan Digitalisasi Pembelajaran Mendalam” yang berlangsung pada 28–30 Juli 2025 di aula sekolah.
Dalam materinya bertajuk “Asesmen Mendalam”, Kepala SMK Gasmeka menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna tak cukup dinilai dari hasil akhir. Asesmen harus menjadi cermin refleksi bersama, bagi guru dan siswa, untuk terus menyempurnakan proses belajar di kelas.
“Jika asesmen hanya digunakan untuk memberi nilai, maka kita hanya melakukan surface learning. Tapi ketika asesmen dijadikan bagian dari refleksi dan perbaikan proses, di situlah deep learning dimulai,” tegasnya.
Pimpinan SMK Negeri 1 Karanganyar menjelaskan bahwa ada tiga jenis asesmen yang perlu dipahami guru: asesmen awal, asesmen proses (for learning), dan asesmen capaian (of learning). Masing-masing memiliki fungsi berbeda, namun saling melengkapi dalam membentuk pengalaman belajar yang utuh dan bermakna.
Lebih lanjut, Pihaknya memaparkan berbagai teknik asesmen alternatif, seperti observasi, penilaian diri, tes kinerja, hingga portofolio dan proyek. Dirinya juga menyoroti pentingnya refleksi melalui kuis non-penilaian sebagai cara mengenali kesulitan belajar siswa tanpa menekan mereka secara emosional.
“Kuis reflektif bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah, tapi untuk memetakan pemahaman siswa dan memperbaiki strategi kita sebagai guru,” jelasnya.
Selain membahas teknis asesmen, nahkoda SMK Gasmeka ini juga menyoroti pentingnya perencanaan matang dan transparansi dalam asesmen. Rubrik, jurnal refleksi, dan umpan balik konstruktif dianggap krusial untuk membangun integritas akademik dan memantik keterlibatan aktif siswa.
Pada sesi tersebut, sang pemimpin institusi pendidikan ini turut menyoroti perlunya laporan pembelajaran yang bersifat naratif. Ia mendorong para guru untuk menyusun catatan capaian siswa secara deskriptif dalam rapor, sehingga perkembangan belajar lebih mudah dipahami baik oleh siswa maupun orang tua.

Lebih lanjut, figur sentral di SMK Negeri 1 Karanganyar ini menekankan bahwa asesmen mendalam bukan sekadar kewajiban, melainkan wujud penghargaan atas proses dan potensi tiap murid. SMK Gasmeka pun siap tampil sebagai pelopor budaya belajar yang manusiawi dan bermakna.
“Tugas kita bukan hanya mengajarkan, tapi memuliakan proses belajar. Setiap siswa punya jalannya masing-masing, dan asesmen adalah cara kita mendampingi mereka dengan bijak,” tutupnya.
Melalui materi ini, Sehat Kandiawan tak hanya berbagi ilmu, tapi juga visi pendidikan humanis yang menyentuh esensi pembelajaran. Ia mendorong semua guru untuk bertransformasi, dari sekadar pengajar menjadi fasilitator tumbuh kembang siswa secara utuh. (sfd/ben)
Mantap, lanjutkan gaes