24 Agu 2025 04:51 - 2 menit membaca

Suwardana Kabumian Gegap Gempita di Pembukaan Kebumen Fest 2025

Bagikan

KEBUMEN, MediaJurnalis – Alun-alun Pancasila berubah menjadi lautan manusia, Sabtu malam (23/8/2025). Sekitar 22 ribu pasang mata terpukau menyaksikan tarian kolosal Suwardana Kabumian, yang menjadi sajian pembuka megah dalam Kebumen Fest 2025.

Sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh, menyelimuti langit malam dengan euforia yang menular ke seluruh penjuru.

Tak hanya itu, sebanyak 240 penari dari SD hingga perguruan tinggi menampilkan gerak ritmis nan energik. Kostum berwarna-warni memantulkan cahaya lampu panggung, membentuk kombinasi visual yang memukau.

Enam segmen tarian, cepetan, lawet, ombak, lampor, nyi roro kidul, dan ekstra properti, membawa penonton menelusuri jejak sejarah dan legenda Kebumen secara hidup.

Lebih dari sekadar hiburan, koreografi yang digarap Bima Satrya Wardhana dari Bravery Dancer menghidupkan emosi setiap penonton.

Dentum musik berpadu dengan langkah para penari, seakan menceritakan kisah kejayaan dan kemakmuran yang tersirat dalam setiap gerakan.

Filosofi tarian pun sarat makna. “Suwardana” melambangkan kemakmuran besar, sementara “Kabumian” terinspirasi dari Pangeran Bumidirdjo, tokoh bersejarah Kebumen.

Momen ini semakin berkesan karena tarian kini resmi tercatat sebagai hak cipta milik Kabupaten Kebumen sejak 22 Agustus 2025.

Sementara itu, Bupati Kebumen Lilis Nuryani, yang membuka acara secara simbolis, menegaskan bahwa tarian kolosal ini adalah persembahan warga Kebumen kepada dunia, sekaligus bukti semangat kebersamaan dan kreativitas yang luar biasa.

“Suwardana Kabumian adalah kebanggaan kita semua. Inilah pesan kepada dunia bahwa Kebumen punya identitas, punya cerita, dan punya daya cipta luar biasa,” ujar Bupati, disambut tepuk tangan yang mengguncang alun-alun.

Sebagai puncak malam bersejarah, langit Kebumen disulap menjadi kanvas cahaya selama 15 menit lewat drone show. Puluhan drone menari membentuk ikon-ikon lokal, mulai dari Burung Lawet hingga tulisan “Hi Kebumates”, menyempurnakan euforia pembukaan festival.

Suasana itu membuat ribuan warga larut dalam kombinasi harmonis seni tradisional dan teknologi modern, menciptakan momen yang akan dikenang lama oleh seluruh penonton. (MJ/*)

Baca Berita Lainnya :  

Share this Post
3
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *