
Semarang, GasmekaNews | Gema perubahan mewarnai Aula Muria BPSDMD Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di kompleks Gedung Administrasi BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Jalan Setiabudi No. 201A, Srondol, Semarang, saat Government Transformation Academy (GTA) resmi dibuka pada Senin (8/12/25).
Prosesi pembukaan berlangsung khidmat, diiringi semangat kolektif aparatur sipil negara (ASN) untuk bertransformasi. Momentum ini menandai dimulainya upaya pembaruan birokrasi menuju tata kelola pemerintahan yang lebih modern, adaptif, dan responsif terhadap tuntutan zaman.
Sejak awal acara, nuansa kebangsaan begitu terasa. Alunan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan Hymne Pamong Praja menggema penuh semangat, menggugah nasionalisme sekaligus menegaskan komitmen ASN sebagai pelayan publik.
Sementara itu, laporan penyelenggaraan kegiatan disampaikan oleh Lik Budi Irwanto, S.Sos., MPA, selaku Analis Pengembangan Kompetensi ASN Ahli Muda, yang memaparkan tujuan strategis pelaksanaan Government Transformation Academy sebagai wadah lahirnya agen-agen perubahan di lingkungan birokrasi.
Selain itu, jumlah peserta yang mengikuti program ini tercatat sebanyak 300 orang. Para peserta tersebut terbagi ke dalam tiga materi utama, yakni Fasilitator Pembelajaran Digital Menengah, AI for Content Creation, dan Social Media Analyst.
Tak hanya itu, rangkaian pelatihan ini dijadwalkan berlangsung selama hampir dua pekan, terhitung mulai 8 hingga 19 Desember 2025, sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kompetensi digital ASN secara berkelanjutan.

Momentum penting terjadi saat sambutan Kepala BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., yang dalam hal ini diwakili oleh Plt. Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Teknis, disampaikan oleh Dr. Anon Priyantoro, S.Pd., M.Pd.
Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya mengubah cara pandang terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, ASN tidak boleh bersikap pasif, melainkan harus adaptif dan visioner.
Lebih jauh, Dr. Anon Priyantoro menyampaikan pernyataan inspiratif yang menggugah para peserta sekaligus memperluas sudut pandang mereka terhadap perkembangan kecerdasan buatan di era digital.
“AI bisa menjadi ancaman dan juga bisa menjadi peluang. Semua tergantung pilihan kita, apakah ingin membangun tembok untuk menolaknya, atau justru membangun kincir angin untuk memanfaatkannya,” ujarnya.
Selanjutnya, pembacaan janji peserta berlangsung dengan khidmat, menjadi simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi etika jabatan, loyalitas, serta tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.

Di sisi lain, para peserta juga diingatkan bahwa tantangan era digital tidak untuk dihindari, melainkan perlu dihadapi sebagai peluang untuk mempercepat pelayanan publik, meningkatkan transparansi, serta memperkuat kepercayaan masyarakat.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang menambah nuansa khidmat, sekaligus menegaskan komitmen persatuan dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang lebih profesional dan berintegritas.
Publik kini menaruh harapan besar pada langkah nyata para ASN. Mampukah mereka mewujudkan birokrasi yang lebih cepat, transparan, dan benar-benar berpihak pada rakyat? Jawaban atas tantangan ini diperkirakan akan terlihat dalam waktu dekat, menjadi indikator nyata keberhasilan Government Transformation Academy. (sfd)
Baca Berita Lainnya :
Tinggalkan Balasan