27 Mar 2026 13:49 - 2 menit membaca

Lelulela: Filosofi 4 L Ustadz Kharis yang Sentuh Hati Jamaah

Bagikan

Karanganyar, Kebumen, GamekaNEWS – Tausiyah yang disampaikan oleh M. Kharis, S.Pd.I dalam rangkaian kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar SMK Negeri 1 Karanganyar, Kebumen yang digelar di aula sekolah setempat pada Jumat (27/3/2026) pagi, menghadirkan suasana reflektif yang sarat makna spiritual bagi seluruh jamaah yang hadir.

Sementara itu, dalam penyampaiannya, Ustadz Kharis mengangkat nilai-nilai ketakwaan yang bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surah Ali ‘Imran ayat 133 dan 134, yang menjelaskan karakteristik orang-orang bertakwa.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa adalah kemampuan menahan amarah serta kelapangan hati dalam memaafkan kesalahan orang lain.

“Orang yang bertakwa itu bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang mampu menahan amarah dan memaafkan dengan lapang dada,” ungkapnya.

Menurutnya, memaafkan bukan sekadar hubungan antarmanusia, melainkan bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Memaafkan itu bukan hanya menyelesaikan urusan dengan manusia, tetapi juga menjadi jalan kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah,” jelasnya yang juga guru mapel PAIBP.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk berani mengakui kesalahan sebagai bagian dari proses taubat yang sejati.

“Syarat taubat itu sederhana, tetapi berat dijalankan, yaitu berani mengakui kesalahan dan memperbanyak istighfar,” tuturnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak istighfar sebagai bentuk kesadaran akan keterbatasan manusia.

“Jangan merasa paling benar, karena setiap kita pasti memiliki khilaf. Maka istighfar menjadi jalan untuk membersihkan hati,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ustadz Kharis menyampaikan pendekatan kearifan lokal melalui filosofi “Lelulela” yang menjadi inti dari tausiyahnya.

Adapun, istilah “Lelulela” merupakan akronim dari Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan yang sarat akan nilai kehidupan.

“Lebaran itu tanda selesai, Luberan itu berbagi, Leburan itu melebur dosa, dan Laburan itu menghiasi diri dengan kesucian,” paparnya.

Lebih rinci, ia menekankan bahwa keempat makna tersebut tidak hanya dipahami secara simbolis, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk nyata ketakwaan.

Selanjutnya, ia juga menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai sarana memperluas keberkahan hidup.

“Silaturahmi itu bukan hanya memperpanjang umur, tetapi juga melapangkan rezeki dan menenangkan hati,” ujarnya.

Tak hanya itu, momentum halal bihalal diharapkan tidak berhenti sebagai tradisi seremonial semata, melainkan menjadi titik awal memperbaiki hubungan antarsesama.

Tausiyah tersebut menjadi penguat spiritual sekaligus pengingat bagi seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. (sfd/ben)

Baca Berita Lainnya :

Share this Post
3
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *