
Karanganyar, GasmekaNEWS — SMK Negeri 1 Karanganyar Kebumen (SMK Gasmeka) terus menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori di kelas, tetapi juga praktik yang aplikatif dan bermanfaat.
Melalui mata pelajaran IPAS, siswa diajak belajar mengolah limbah organik menjadi produk yang lebih bernilai guna melalui proyek pembuatan eco-enzyme.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan sekolah. Selain menambah wawasan, kegiatan itu juga melatih keterampilan serta kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar.
Guru mata pelajaran IPAS, Nani Wiyarsih, M.Si., mengatakan proyek pembuatan eco-enzyme dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Tim Adiwiyata sekolah.
Menurutnya, pembelajaran IPAS tidak hanya sebatas memahami teori. Namun, siswa juga perlu mendapatkan pengalaman praktik agar lebih memahami penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

“Teori dipelajari, praktik dijalani. Melalui eco-enzyme, siswa belajar bagaimana limbah organik dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” ujar Nani Wiyarsih kepada Jurnalis Gasmeka, Selasa (19/5/2026).
Tidak hanya itu, Nani mengatakan kegiatan tersebut juga mengajarkan siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar sejak dini.
“Jadi, mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga memahami cara menjaga lingkungan melalui tindakan nyata,” imbuhnya.
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, seperti kulit buah dan sisa sayuran. Cairan ini memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan maupun kebutuhan sehari-hari.
Selain dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanaman, eco-enzyme juga dapat digunakan untuk membantu menjaga kualitas air kolam ikan karena mengandung bakteri baik alami yang bermanfaat bagi ekosistem.

Tak hanya itu, cairan hasil fermentasi tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pengurai limbah organik, penghilang bau tidak sedap, hingga membantu menyuburkan tanah.
Menariknya, hasil proyek dari empat rombongan belajar tersebut nantinya akan dimanfaatkan langsung di lingkungan sekolah.
Pemanfaatannya meliputi pemupukan tanaman di area sekolah, perawatan kolam ikan, hingga sebagai bahan pendukung kebutuhan sederhana di UKS sekolah.
Tim Adiwiyata SMK Gasmeka, Khanif Nasirudin, S.Pd., menilai kegiatan tersebut menjadi langkah positif dalam membangun budaya peduli lingkungan di kalangan siswa.
Ia mengatakan siswa perlu dibiasakan untuk lebih peka terhadap permasalahan lingkungan sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang bermanfaat. Salah satunya melalui pengolahan limbah organik yang sederhana, namun memiliki banyak manfaat.
“Melalui kegiatan ini, siswa diajak lebih kreatif dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 1 Karanganyar Kebumen, Sehat Kandiawan, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan eco-enzyme yang memanfaatkan limbah organik.
Pihaknya menjelaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan prinsip pembelajaran mendalam atau deep learning yang mengedepankan konsep mindful, meaningful, dan joyful.
Menurutnya, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mempraktikkan dan mengembangkan pengalaman belajar yang telah dilakukan.
“Prinsip pembelajaran mendalam adalah bagaimana murid memahami, kemudian melakukan, dan akhirnya merasa senang untuk mengembangkan apa yang telah dipelajari,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pimpinan sekolah ini juga menilai pembelajaran proyek eco-enzyme sejalan dengan semangat SMK Negeri 1 Karanganyar dalam upaya meraih Adiwiyata Nasional tahun 2026.
Sekolah pun membuka peluang kolaborasi antara mata pelajaran IPAS-KIK, ekstrakurikuler Lingkungan Hidup, hingga berbagai konsentrasi keahlian untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis lingkungan.
“Ke depan, kami berharap seluruh konsentrasi keahlian dapat saling berkolaborasi sehingga terbentuk kelompok-kelompok kewirausahaan berbasis lingkungan,” tambahnya.

Salah satu siswa mata pelajaran IPAS, Resti Nur Laili, mengaku senang dapat mengikuti praktik pembuatan eco-enzyme.
Menurut siswi kelas X PM 3 tersebut, kegiatan itu membuat dirinya memahami bahwa limbah dapur dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.
“Saya senang bisa praktik membuat eco-enzyme. Dari praktik tersebut, saya jadi mengerti bahwa sampah dapur dapat diolah menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi lingkungan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Resti berharap pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan saya, kegiatan seperti ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat ikut menjaga dan melestarikan lingkungan yang bersih,” harapnya sambil tersenyum. (sfd)
Tinggalkan Balasan